Sunday, December 7, 2014

SEDERHANA ITU INDAH

Beberapa hari yang lalu, ketika saya bertanya pada suami tentang berapa perempuan yang pernah singgah dihidupnya sebelum saya, ia menjawab satu perempuan, seseorang dari sebuah kota di Sulawesi, dari keluarga wirausaha. dan Seketika itu pula, ada rasa ingin marah padanya, takut sersaingi, atau apalah (mungkin itu yang disebut ‘cemburu’). Tapi ketika saya tanya kembali apa yang membuatnya lebih memilih saya untuk hidup bersamanya, ia pun bercerita. Hubungan ia dengan perempuan diatas hanya berlangsung satu tahun, ia suka, tapi tidak ada keinginan untuk hidup bersamanya. Bersamanya hanya untuk berhura-hura, bersenang-senang, hiburan semata. Selang beberapa tahun kemudian, ketika ia sudah tidak mempunyai hubungan dengan perempuan tersebut, ia dikenalkan oleh salah seorang kakaknya pada dua gadis dari kota Apel, seorang gadis berprofesi sebagai dokter gigi dan saya, yang saat itu masih bersatatus sebagai mahasiswi semester 4.
Sampai disitu ia berhenti bercerita, saya pun bertanya lagi apa yang membuatnya memilih saya sedang seseorang lain yang dikenalkan padanya jauh lebih jelas profesinya ketimbang saya yang saat itu pun masih belum lulus kuliah. Dengan singkat dia menjawab, “Karena sampeyan tidak neko-neko, aku tahu diriku, aku akan ribet jika menikah dengan seseorang perfectionist.” Jawaban sederhana itu membuat saya mengingat kembali hari itu, hari dimana saya ditelepon bu nyai untuk bergegas pergi ke pondok.
Karena tempat yang saya tuju ialah pondok pesantren, saya pun menyesuaikan cara berpakaian saya. Dengan make up tipis, rok hitam, baju dan kerudung biru saya berangkat. Didalam angkot, saya menebak-nebak ‘ada apa ini’, karena baru kali ini saya mendapat telepon dari seorang bu nyai. Sesampainya di pondok, beliau mengajak berangkat kembali ke sebuah kecamatan, yang konon pernah menjadi pusat kerajaan Singhasari. Dalam perjalanan, beliau pun mengatakan maksud dari telepon sebelumnya, beliau ingin mengenalkan pada salah seorang adiknya yang saat ini sedang cuti bekerja.
Mendengar pernyataan beliau, hati saya pun dag dig dug tak karuan. Saya menyesal, karena jikalau tahu niat beliau, saya akan mempercantik diri, berdandan sepantasnya untuk bertemu pertama kali seseorang yang mungkin berjodoh dengan saya. Pertemuan pun berlangsung biasa, ia dengan kemeja merah, berambut pirang tak lupa bertanya nomor handphone saya. Sampai suatu saat, berselang satu hari dari pertemuan itu, ada sebuah sms darinya yang bertuliskan, “Will you marry me?”, sms yang telah mengantarkan saya untuk selalu belajar mencintainya dan memutuskan untuk hidup bersamanya.
Kembali pada jawaban yang ia berikan beberapa hari yang lalu, saya tidak menyangka bahwa apa yang membuatnya lebih memilih saya daripada seorang dokter gigi tersebut ialah justru hal yang saya sesalkan. Ketika hal demikian dijawab diluar logika seorang muslim, maka hasilnya ialah ‘itulah yang dinamakan takdir’. Tetapi, terlepas dari itu semua, ketika kita merefleksikan dengan mengambil hikmah yang ada didalamnya, maka jawabannya bisa menjadi ‘ternyata kekurangan yang kita miliki dapat menjadi keuntungan bagi kita’. Andaikata saat itu saya bermake up tebal, berpakaian mewah, apa yang terjadi belum tentu yang seperti sekarang. Dari cerita ini pula, saya sadar akan pentingnya bersikap sederhana, sekedarnya saja, dalam hal apapun.
Sederhana bukan berarti miskin, karena tidak mempunyai apa-apa. Sederhana bukan bakhil, yang sayang (eman) untuk memberikan sesuatu untuk dirinya sendiri. Sederhana itu tidak neko- neko, tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu. Dengan sederhana pun kita dapat menjadi bijaksana dalam menyikapi sesuatu, termasuk sebuah masalah. Namun, bertindak sederhana, tidak sesederhana yang dikatakan, perlu kekuatan untuk menahan hawa nafsu kita, yang seringkali berlebihan. Untuk itu, marilah kita selalu belajar untuk bersikap sederhana, dimanapun dan kapanpun, yakini bahwa ada hikmah yang indah dibaliknya.

“Yaa banii Aadama khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjidin wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu, innahu laa yuhibbul musrifiin” (QS. al-A’raf 6: 31),
“Wahai anak-cucu Adam, pakailah busana indahmu di setiap masjid (ketika akan shalat, thawaf, atau ibadah-ibadah yang lain); makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai mereka yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf 6: 31),

                                                                                              




                                                                                                                      Timika, 8 Desember 2014

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home