SEDERHANA ITU INDAH
Beberapa
hari yang lalu, ketika saya bertanya pada suami tentang berapa perempuan yang pernah
singgah dihidupnya sebelum saya, ia menjawab satu perempuan, seseorang dari
sebuah kota di Sulawesi, dari keluarga wirausaha. dan Seketika itu pula, ada
rasa ingin marah padanya, takut sersaingi, atau apalah (mungkin itu yang
disebut ‘cemburu’). Tapi ketika saya tanya kembali apa yang membuatnya lebih
memilih saya untuk hidup bersamanya, ia pun bercerita. Hubungan ia dengan
perempuan diatas hanya berlangsung satu tahun, ia suka, tapi tidak ada
keinginan untuk hidup bersamanya. Bersamanya hanya untuk berhura-hura,
bersenang-senang, hiburan semata. Selang beberapa tahun kemudian, ketika ia
sudah tidak mempunyai hubungan dengan perempuan tersebut, ia dikenalkan oleh
salah seorang kakaknya pada dua gadis dari kota Apel, seorang gadis berprofesi
sebagai dokter gigi dan saya, yang saat itu masih bersatatus sebagai mahasiswi
semester 4.
Sampai
disitu ia berhenti bercerita, saya pun bertanya lagi apa yang membuatnya
memilih saya sedang seseorang lain yang dikenalkan padanya jauh lebih jelas
profesinya ketimbang saya yang saat itu pun masih belum lulus kuliah. Dengan
singkat dia menjawab, “Karena sampeyan tidak neko-neko, aku tahu diriku, aku
akan ribet jika menikah dengan seseorang perfectionist.” Jawaban sederhana
itu membuat saya mengingat kembali hari itu, hari dimana saya ditelepon bu
nyai untuk bergegas pergi ke pondok.
Karena
tempat yang saya tuju ialah pondok pesantren, saya pun menyesuaikan cara
berpakaian saya. Dengan make up tipis, rok hitam, baju dan kerudung biru saya
berangkat. Didalam angkot, saya menebak-nebak ‘ada apa ini’, karena baru kali
ini saya mendapat telepon dari seorang bu nyai. Sesampainya di pondok, beliau
mengajak berangkat kembali ke sebuah kecamatan, yang konon pernah menjadi pusat
kerajaan Singhasari. Dalam perjalanan, beliau pun mengatakan maksud dari
telepon sebelumnya, beliau ingin mengenalkan pada salah seorang adiknya yang
saat ini sedang cuti bekerja.
Mendengar
pernyataan beliau, hati saya pun dag dig dug tak karuan. Saya menyesal, karena
jikalau tahu niat beliau, saya akan mempercantik diri, berdandan sepantasnya
untuk bertemu pertama kali seseorang yang mungkin berjodoh dengan saya. Pertemuan
pun berlangsung biasa, ia dengan kemeja merah, berambut pirang tak lupa
bertanya nomor handphone saya. Sampai suatu saat, berselang satu hari dari
pertemuan itu, ada sebuah sms darinya yang bertuliskan, “Will you marry me?”, sms
yang telah mengantarkan saya untuk selalu belajar mencintainya dan memutuskan
untuk hidup bersamanya.
Kembali
pada jawaban yang ia berikan beberapa hari yang lalu, saya tidak menyangka
bahwa apa yang membuatnya lebih memilih saya daripada seorang dokter gigi
tersebut ialah justru hal yang saya sesalkan. Ketika hal demikian dijawab
diluar logika seorang muslim, maka hasilnya ialah ‘itulah yang dinamakan
takdir’. Tetapi, terlepas dari itu semua, ketika kita merefleksikan dengan
mengambil hikmah yang ada didalamnya, maka jawabannya bisa menjadi ‘ternyata
kekurangan yang kita miliki dapat menjadi keuntungan bagi kita’. Andaikata
saat itu saya bermake up tebal, berpakaian mewah, apa yang terjadi belum tentu
yang seperti sekarang. Dari cerita ini pula, saya sadar akan pentingnya bersikap
sederhana, sekedarnya saja, dalam hal apapun.
Sederhana
bukan berarti miskin, karena tidak mempunyai apa-apa. Sederhana bukan bakhil,
yang sayang (eman) untuk memberikan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Sederhana itu tidak neko- neko, tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu.
Dengan sederhana pun kita dapat menjadi bijaksana dalam menyikapi sesuatu,
termasuk sebuah masalah. Namun, bertindak sederhana, tidak sesederhana yang
dikatakan, perlu kekuatan untuk menahan hawa nafsu kita, yang seringkali berlebihan.
Untuk itu, marilah kita selalu belajar untuk bersikap sederhana, dimanapun dan
kapanpun, yakini bahwa ada hikmah yang indah dibaliknya.
“Yaa
banii Aadama khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjidin wakuluu wasyrabuu walaa
tusrifuu, innahu laa yuhibbul musrifiin” (QS. al-A’raf 6: 31),
“Wahai
anak-cucu Adam, pakailah busana indahmu di setiap masjid (ketika akan shalat,
thawaf, atau ibadah-ibadah yang lain); makan dan minumlah dan jangan
berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai mereka yang
berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf 6: 31),
Timika,
8 Desember 2014


